Home arrow Pemilihan Kepala Daerah arrow Parpol Islam Didorong Bangun Poros Tengah
May 14 2009
Parpol Islam Didorong Bangun Poros Tengah Cetak E-mail
Ditulis Oleh detikcom   
Kamis, 14 Mei 2009
Kamis, 14 Mei 2009
Dibaca oleh : 478 Orang

ImageJakarta - Beberapa parpol pendukung SBY mengancam untuk keluar dari koalisi terkait dipilihnya Boediono sebagai cawapres. Wacana ini dianggap positif bagi parpol Islam untuk membuat kekuatan baru. "Kalau memang mau keluar ya keluar saja. Lalu mau bikin poros tengah silahkan. Kalau itu benar-benar serius, hal itu sehat untuk parpol-parpol Islam," ujar Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti kepada detikcom saat dihubungi melalui telepon, Rabu (13/5/2009) malam.

Ikrar menambahkan, sebenarnya langkah ini pernah dibangun saat ini beberapa bulan yang lalu. Namun parpol Islam nampak masih setengah-setengah merajut komunikasi.

"Sayangnya, kenapa tidak dari dulu saja, sejak Din (Din Syamsuddin) membikin poros tengah. Kalau itu benar-benar serius ini pertama kali dalam sejarah mereka bisa menyatu," imbuh

Ancaman tersebut, imbuh Ikrar, sekaligus merupakan taruhan bagi tiap-tiap parpol. "Jika ancaman itu hanya omong saja, maka asumsi selama ini yang menyatakan mereka hanya gertak sambal berarti benar. Tapi apabila benar mereka membangun poros tengah buat saya itu baru politisi gentelman,"

Menurut Ikrar, asumsi bahwa SBY bertindak otoriter dalam penentuan cawapres adalah benar. SBY dinilai ketakutan atas langkah politik yang dibangunnya sendiri.

"Dia (SBY) itu berada dalam bayang-bayangnya sendiri. Karena ia tahu Tifatul, Hatta Rajasa dan lainnya akan menjadi anak macan nantinya. Ini sama seperti dulu saat ia di zaman Megawati," tandas peneliti LIPI ini.

Dengan memilih Boediono, SBY dinilai tidak membangun masa depan bagi demokrasi Indonesia. "Pak Boediono itu kan sudah sepuh, bagi demokrasi kita kenapa sih tidak milih anak muda saja," tutupnya.
» 2 Comments
1Comment
at Thursday, 14 May 2009 11:04by w.wirosoekarto
Ujung2nya, cuma kekuasaan dan UUD. Ngapain ndikte orang? Termasuk Amien Rais, dulu saya kira profesional, tapi ya UUD. Bentuk saja partai AGAN (agama-nasionalis), sbg lawan NASA (nasionalis-agama). Jadi di Indonesia hanya ada 2 partai (sederhana kan?). Drpd sekarang rakyat bingung saking terlalu banyaknya partai. Kerjanya cuma main gertak. nggak mutu.
2Comment
at Sunday, 17 May 2009 20:24by gofur
siapa bilang main gertak anda itu kalo ngikutin perkembangan politik jangan setengah-setengah bung wiro, partai islam itu di anggap bumper oleh sby, tanpa di sadari harusnya sby mikir kalo mau koalisi itu jangan anggap remeh partai pengusung dan pendukung, dan kita ga ngedikte tapi menayakan dan bicarakan sbg bentuk hubangan yang baik jgn sok dan merasa udah menang dgn modal 20%, mau di taruh dimana muka mega-prabowo dan jk-win, jgn takabur, mansia boleh berencana tp TUHAN yg menentukan.
» Post Comment
Email (will not be published)
Name
Title
Comment
 remaining characters
Captcha Image Regenerate code when it's unreadable